NTT Terus Bangkit, Lazismu Dukung EMT Muhammadiyah Layani 2.222 Penyintas

Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan dampak panjang bagi masyarakat di sejumlah wilayah Flores. Meski masa status keadaan darurat telah berakhir pada 28 Agustus, kebutuhan penyintas untuk mendapatkan layanan kesehatan dan pendampingan masih terus berjalan.
Berdasarkan data BNPB per 31 Agustus 2026, sebanyak 120 orang meninggal dunia akibat gempa. Sebanyak 1.658 orang mengalami luka atau sakit, sementara 183.673 warga masih berada di pengungsian.
Di tengah proses pemulihan tersebut, layanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan penting. Kondisi penyintas juga mulai berubah. Jika pada masa awal bencana banyak ditemukan kasus trauma dan cedera, kini penyakit infeksi mulai lebih banyak muncul di lingkungan pengungsian.
EMT Muhammadiyah Terus Layani Penyintas
Melalui Program Indonesia Siaga, Lazismu bersama Muhammadiyah terus mendukung respons kemanusiaan di NTT.
Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang bertugas selama 30 hari masih melanjutkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Hingga 28 Agustus 2026, tim telah menangani 2.222 pasien melalui layanan kesehatan di Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah.
Rumah sakit lapangan tersebut telah melalui proses verifikasi berdasarkan standar World Health Organization (WHO). Layanan diberikan kepada berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Dari total pasien yang ditangani, terdapat 1.328 perempuan dan 894 laki-laki. Sebanyak 13 ibu hamil juga mendapatkan manfaat layanan kesehatan.
Berdasarkan kelompok usia, layanan tersebut mencakup 54 bayi, 128 balita, 178 anak, 78 remaja, 1.317 dewasa, dan 467 lansia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan di tengah situasi pascabencana masih cukup besar.
Dari Cedera Menuju Pemulihan
Ketua EMT Muhammadiyah, dr. Corona Rintawan, menjelaskan bahwa kasus trauma dan cedera yang banyak ditemukan pada hari-hari awal bencana mulai menurun.
Sebaliknya, tim mulai menemukan peningkatan penyakit infeksi yang kemungkinan berkaitan dengan kondisi lingkungan pengungsian.
Dari ribuan pasien yang telah mendapatkan layanan, sejumlah keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, nyeri otot, hipertensi, gangguan pencernaan, serta sakit kepala dan nyeri pada bagian leher.
Situasi ini membuat edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan. Penyintas tidak hanya membutuhkan pengobatan ketika sakit, tetapi juga pendampingan agar dapat menjaga kesehatan selama tinggal di pengungsian.
Pemanfaatan sanitasi yang baik, akses terhadap air bersih, dan penerapan pola hidup sehat menjadi langkah sederhana yang penting untuk mencegah munculnya penyakit.
Lazismu Menguatkan Ikhtiar Kemanusiaan
Respons terhadap bencana tidak berhenti ketika status darurat berakhir.
Bagi masyarakat yang masih berada di pengungsian, proses untuk kembali menjalani kehidupan secara normal membutuhkan waktu. Karena itu, dukungan terhadap layanan kesehatan dan kebutuhan kemanusiaan tetap diperlukan selama kondisi di lapangan masih membutuhkan.
Melalui Program Indonesia Siaga, Lazismu terus mengambil bagian dalam menguatkan respons Muhammadiyah untuk masyarakat terdampak gempa NTT.
Ikhtiar di lapangan dilakukan bersama oleh banyak pihak. Ada tenaga medis yang memberikan pelayanan, relawan yang mendampingi masyarakat, serta para donatur yang ikut menguatkan dari jauh.
NTT sedang berproses untuk bangkit.
Mari terus ikut menguatkan ikhtiar tersebut. Dukungan yang kita titipkan dapat menjadi bagian dari keberlanjutan layanan dan respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa.
Mari bantu NTT terus bangkit melalui donasi kemanusiaan di Ikhtiar Baik.
Salurkan dukungan melalui:
https://ikhtiarbaik.id/campaign/gempa-ntt/
Sumber: Lazismu, “Status Darurat Bencana Berakhir, EMT Muhammadiyah Tangani 2.222 Penyintas Gempa NTT”, 31 Agustus 2026.



